<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367</id><updated>2009-10-14T00:07:21.002-07:00</updated><title type='text'>Lembaran Dakwah Pintu Ilmu</title><subtitle type='html'>Keindahan Ilmu Dengan Mendermakannya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-325154243142593877</id><published>2007-03-06T09:09:00.000-08:00</published><updated>2007-03-06T09:13:50.559-08:00</updated><title type='text'>Edisi 1 / 2007</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Faktor-faktor Pemadam Kasih Sayang dalam Kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emi Nur Hayati Ma’sum Said&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ikatan perkawinan merupakan sebuah ikatan suci yang terjadi karena adanya kebutuhan dan daya tarik antara laki-laki dan perempuan secara timbal balik. Namun, kehidupan harmonis yang bisa membawa pasangan suami istri menuju ke puncak materi dan spiritual, semata-mata karena adanya unsur “kasih sayang”. Mungkinkah ada rumah tangga yang bertahan dan kontinu dengan tanpa adanya kasih sayang kendati sesaat pun? Mungkinkah masing-masing suami istri mampu bertahan menghadapi pasangannya tanpa adanya kasih sayang secara timbal balik dan hubungan kemanusiaan? Sementara Allah mendasari kehidupan rumah tangga dengan fondasi “cinta dan kasih sayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati cinta dan kasih sayang adalah unsur penting dalam kehidupan rumah tangga, namun, sikap dan perilaku suami atau istrilah yang akan mengobarkan atau memadamkan api kasih sayang di antara mereka. Baik perilaku muncul berdasarkan kesadaran atau tidak. Berdasarkan kebodohan atau kesengajaan. Tidak sedikit rumah tangga yang dimulai dengan cinta dan kasih sayang, tetapi karena pasangan suami istri tidak atau kurang mengetahui bagaimana caranya mengendalikan bahtera keluarganya, mereka mengalami kebingungan bahkan sampai tenggelam dalam kehancuran. Ikatan perkawinan yang seharusnya membawa pasangan suami istri mencapai ketenangan dan kedamaian malah membawa mereka ke dalam perselisihan dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, penulis ingin mengangkat wacana faktor-faktor apa saja yang bisa memadamkan api kasih sayang dalam kehidupan sebuah rumah tangga dengan bersandar pada metode kehidupan para maksum as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa adanya perhatian serius masing-masing pasangan suami istri, terhadap prinsip-prinsip kehidupan rumah tangga dan akhlak, bahtera yang dibangun selama ini akan pudar begitu saja, yang efeknya tidak saja merusak pribadi masing-masing, akan tetapi masyarakat sekitar juga akan merasakan dampaknya. Karena rumah tangga adalah bagian terkecil dari kehidupan sosial, baik buruknya kehidupan sosial tergantung dengan baik buruknya kehidupan setiap rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja faktor-faktor pemadam kasih sayang ini, tidak sedikit. Namun penulis akan membahasnya dalam beberapa poin saja, antara lain: berakhlak buruk yang meliputi - galak, bermuka masam dan cemberut, kata-kata yang pedas dan mencaci maki -, mencari-cari kesalahan, tidak memaafkan, memasukkan urusan luar ke dalam rumah  tangga, dan tidak mengungkapkan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor Pemadam Kasih Sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berakhlak Buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda: “Akhlak buruk akan menyebabkan hidup sulit dan batin tersiksa.[1] Akhlak yang buruk merupakan sifat yang jelek, dan sulit bahkan tidak mungkin bagi orang lain untuk menerimanya. Bila salah satu dari pasangan suami istri terjangkit akhlak buruk, maka ia akan mengubah rumah tangganya menjadi sebuah neraka. Dalam riwayat Ahlul Bait as. dijelaskan tentang akibat-akibat dan pengaruh akhlak buruk bagi pelakunya, antara lain; manusia yang berakhlak buruk amal perbuatannya rusak, taubatnya tidak diterima, kehidupannya menjadi sangat susah dan ia adalah teman yang paling jelek, pada dasarnya ia bukan orang mukmin, ia sebagai penghuni neraka, ia akan tersiksa di alam kubur, dan jiwanya tersiksa, keluarganya akan menjauhinya, ia senantiasa merasa tidak tenang, rezekinya sempit, ia tidak memiliki teman dan sahabat, ia tidak akan mencapai tujuannya, kehidupannya gelap dan susah.[2] Berakhlak buruk baik dalam lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga adalah penyebab kesusahan bagi pelakunya maupun orang-orang sekitarnya. Dalam riwayat ditekankan: “Jangan sampai kawin dengan orang yang akhlaknya buruk”! karena akhlak buruk menyebabkan kesedihan. Sebagaimana riwayat Imam Ali a.s. bahwa setengah dari penyebab ketuaan adalah sedih.[3] Perlu diingat, bahwa salah satu dari sebab tekanan kubur adalah berakhlak buruk dalam rumah terhadap anggota keluarga, sebagaimana kisah tentang Sa’ad bin Ma’adz. Meskipun acara penguburan Sa’ad dihadiri oleh Rasulullah saw dengan kaki telanjang, ia tetap mendapatkan tekanan siksa kubur. Ketika sebabnya ditanyakan kepada beliau, beliau menjawab: “Karena ia berakhlak buruk terhadap keluarganya, ia galak terhadap keluarganya”. Kalau seorang sahabat Rasul semacam Sa’ad saja masih mendapat tekanan siksa kubur, bagaimana dengan kita? Yang galak terhadap anggota keluarga. Imam Shadiq as. bersabda: “Salah satu dari doa Rasulullah adalah demikian: “Ya Allah! Aku berlindung dari perempuan yang membuat aku tua sebelum  waktunya”. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya berakhlak buruk di sini memiliki makna umum, dan ia memiliki pembagian-pembagian secara rinci seperti; galak, muka masam dan cemberut, kata-kata pedas, dan mencaci maki dan lain-lain. Sifat-sifat yang ada ini, bila terdapat pada salah satu pasangan suami istri, maka kehidupan rumah tangga akan menjadi pahit dan suram. Yang pada akhirnya menyebabkan padamnya api kasih sayang di antara keduanya. Untuk lebih jelasnya, kita bahas secara rinci masing-masing pembagian di atas bersama unsur-unsur penyebabnya.&lt;br /&gt;Galak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang galak, biasanya karena unsur genetik, kejiwaan, makanan dan kurang tidur serta istirahat. Bila sebabnya karena unsur genetik dan keturunan, sebaiknya merujuk ke psikiater untuk mendapatkan informasi yang diperlukan, dan adanya latihan-latihan menahan diri. Bila karena kurang tidur dan istirahat, sebaiknya tidur yang cukup dan mengkaji pengaruh-pengaruh dan akibat sikap galak, sehingga bisa dikendalikan dengan baik. Orang boleh lelah karena aktivitasnya di luar rumah, tetapi, ia tidak berhak melampiaskan kelelahannya terhadap pasangan hidupnya atau anak-anaknya.&lt;br /&gt;Bermuka Masam dan Cemberut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan masalah muka masam dan cemberut, riwayat Imam Ali as. mengatakan: “Orang mukmin, keceriaannya ada di wajahnya, dan kesedihannya ada di dalam hatinya”. Dengan demikian, orang yang hidup berumah tangga, ia harus lebih menjaga masalah ini. Kita sendiri senang bila berhadapan dengan orang yang mukanya ceria dan ramah, dan tidak suka berhadapan dengan orang yang bermuka masam dan cemberut. Oleh karena itu, orang yang bermuka ceria, ia lebih sukses dalam berhubungan dan berinteraksi dengan sesamanya, dan dicintai oleh anggota masyarakat. Tentu saja, manusia kadang mengalami kesedihan. Namun, jangan sampai kesedihan itu ditampakkan di depan umum, khususnya anggota keluarga. Karena akan mengganggu ketenangan mereka, sehingga mereka akan menjauh dan ini menyebabkan padamnya api kasih sayang dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermuka masam dan cemberut, boleh jadi karena kebiasaan, terlalu berharap dari orang lain, menganggap diri paling wah, marah, khawatir dan tidak adanya ketenangan serta kondisi kejiwaan. Apapun sebabnya tidak seorang pun boleh menampakkan kecemberutannya di hadapan orang lain. Karena bermuka masam adalah sesuatu yang tidak baik. Dan sebaiknya belajar dari ajaran-ajaran agama, dengan selalu bermuka ceria, senantiasa senyum dan menggunakan kata-kata yang penuh kasih sayang, sabar dalam menghadapi kekurangan orang lain. Jangan banyak menuntut orang lain untuk sempurna dengan menggunakan kata-kata yang menyakitkan. Sementara, kita lupa bahwa dengan muka kita yang cemberut, kita sendiri sedang menjauhi proses kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan rumah tangga, suami istri perlu memperhatikan masalah ini dengan baik. Karena pengaruhnya besar sekali dalam keharmonisan anggota keluarga, terutama dalam pendidikan dan kejiwaan anak-anak. Orang tua yang ceria akan menghasilkan anak-anak yang ceria juga.&lt;br /&gt;Kata-kata Pedas dan Menyakitkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata yang pedas dan menyakitkan hati, tidak lain hanya membuat orang lain benci dan dendam. Imam Ali as. dalam hal ini bersabda: “Kata-kata yang pedas lebih menyakitkan dari tusukan tombak”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani ada sebabnya. Untuk melakukan penyembuhan dan pengobatan, pada tahap awal harus mencari sebab dan faktor-faktor pencetusnya. Berbicara yang menyakitkan hati orang lain, kata-kata yang pedas dan menyakitkan adalah sebuah penyakit jiwa, dan merupakan akhlak yang buruk. Faktor-faktornya antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dendam dan Benci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebab seseorang berbicara menyakitkan adalah dendam dan kebenciannya kepada orang lain. Ketika seseorang memiliki dendam terhadap orang lain, ia selalu tertekan dan tidak tenang, sehingga sebisa mungkin menggunakan kesempatan untuk menyakiti hati dan jiwa orang yang dianggap sebagai lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hasut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasut adalah seseorang tidak menginginkan orang lain memiliki nikmat dan kebaikan. Dengan kata-katanya yang pedas penghasut berusaha merusak dan menjatuhkan orang yang dihasutinya. Perlu diketahui bahwa hasut adalah dosa besar, dan menghapus iman seseorang sebagaimana api melenyapkan kayu. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Merasa Hina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang berkata-kata pedas kepada orang lain, boleh jadi karena ia merasa dirinya rendah dan hina daripada orang lain yang dianggapnya lebih sukses, baik dalam kehidupan, pelajaran dan karier. Oleh karenanya, dengan kata-katanya yang pedas ia ingin menyakiti orang tersebut dan menunjukkannya bahwa ia sebagai orang yang tidak sukses seperti dirinya. Jelas perbuatan ini adalah dosa besar, dan orang yang merasa dirinya rendah dan hina sebaiknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan tawakal kepada Allah untuk mencapai kesuksesan, agar selamat dari perbuatan yang buruk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Memandang diri Super&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sebab seseorang berkata pedas adalah bila ia memandang dirinya super. Orang yang memandang dirinya super, ia memandang orang lain kecil dan tidak berarti, akhirnya ia selalu mengejek dan menghina dan menyakiti hati orang tersebut. Orang yang menganggap dirinya super hendaknya perhatian dengan penyakit yang menyerang jiwanya, dan secepatnya untuk mengobatinya.&lt;br /&gt;Mencaci maki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. [7] Mencaci maki orang lain hukumnya haram. Hukum haram di sini tidak adanya bedanya, apakah orang yang di caci keluarganya; istri, anak atau orang lain yang tidak ada hubungan keluarga. Bagaimanapun kondisinya; marah, tertekan, kesibukan serta kepanikan, seseorang tidak berhak untuk mencaci maki orang lain untuk dijadikan pelampiasan hawa nafsunya. Imam Baqir as. bersabda: “Allah membenci pencaci maki dan orang yang suka mencaci” [8] (mencari-cari kekurangan orang lain sehingga ia bisa mencari alasan untuk mencaci makinya). Orang yang di caci maki akan merasa marah dan benci, bahkan akan padam rasa kasih sayangnya terhadap orang yang mencaci maki. Mencaci maki menunjukkan rendahnya kepribadian pencaci maki. Dan tidak seorang pun akan menampakkan rasa kasih sayang dan persahabatan dengannya. Imam Shadiq as. bersabda: “orang yang ditakuti orang lain karena lisannya, ia adalah ahli neraka”. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mencari-cari Aib dan Kejelekan Orang Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali as. bersabda: “Jangan menjadi pencari aib dan jangan memandang segala sesuatu jelek”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Baqir as. bersabda: “Sejelek-jeleknya orang adalah orang yang mencari-cari kejelekan orang lain sementara ia memiliki kejelekan tersebut, tetapi tidak merasakannya”. [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Maksumin as. tidak seorang pun memiliki kebaikan semata-mata. Manusia, selain memiliki sisi kebaikan, ia juga memiliki sisi kejelekan. Tidak seorang pun berhak untuk mengharapkan orang lain sempurna. Orang yang selalu bersandar pada kekurangan orang lain, senantiasa curiga dan tidak merasa cukup dengan apa yang ada pada orang lain. Orang yang demikian ini telah kehilangan kreativitas berteman dan menyayangi orang lain. Suami atau istri yang bersandar pada kesalahan pasangannya, sekecil-kecilnya kesalahan pasangannya akan dijadikan alasan untuk memarahinya. Bila suami atau istri demikian, maka pasangannya akan menjauhinya, dan kehidupan bagi mereka tidak menyenangkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita ingin memiliki suasana yang hangat dalam kehidupan rumah tangga, mari kita lihat sisi positif pasangan kita. Sehingga kita tidak mudah marah, juga tidak membuat pasangan kita tersiksa. Selain itu jangan banyak berharap kepada orang lain, sehingga kita tenang dan santai, bila orang lain tidak sesuai dengan keinginan kita. Bila pasangan kita berbuat salah atau berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, maka jangan spontan melakukan interaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari-cari kejelekan orang lain akan merusak hubungan yang sudah akrab sebelumnya. Bahkan akan menjadikan permusuhan. Sebaliknya memuji kelebihan orang lain akan membuat hubungan semakin akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pesan Imam Ali as. kepada Imam Hasan as: “Jadikanlah dirimu sebagai tolok ukur! Berlakulah kepada orang lain, bila engkau suka hal itu dipelakukan untukmu, dan jangan memperlakukan orang lain, jika engkau tidak suka diperlakukan seperti itu”. Dudukkan orang lain sebagai diri kita, jika kita senang orang lain menghormati kita maka kita hormati orang lain. Jika kita tidak suka orang lain berakhlak buruk kepada kita, maka jangan berakhlak buruk terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak mau Memaafkan Kesalahan Orang Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain.[11] Pemaaf adalah salah satu dari sifat Allah. Barang siapa yang ingin mendapatkan ampunan ilahi, ia harus memiliki sifat pemaaf. Bagaimana mungkin seseorang akan diampuni oleh Allah, sementara ia sendiri tidak mau memaafkan kesalahan orang lain. Seseorang bisa mengetuk pintu Allah melalui sifat yang dimilikinya. Katakanlah seseorang mau minta ampun kepada Allah, maka ia harus memiliki sifat ilahi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak mau mengampuni kesalahan orang lain, akan membuat orang lain benci dan dendam kepadanya. Apalagi jika  hal ini terjadi dalam sebuah rumah tangga. Yang seharusnya anggota keluarga memaafkan yang lainnya, malah keadaan dibikin lebih ruwet yang akibatnya lebih fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memasukkan Urusan Luar ke dalam Rumah Tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami atau istri yang memiliki kesibukan di luar rumah, senantiasa berhadapan dengan berbagai macam bentuk sikap dan perilaku manusia. Bila suami atau istri di luar rumah bermasalah dengan rekan kerjanya, hal ini tidak perlu diceritakan kepada pasangannya. Mengapa demikian, karena suami atau istri akan menemukan titik kelemahan pasangannya, dan suatu saat akan dijadikan kunci untuk menjatuhkannya, bila terjadi percekcokan di antara keduanya. Begitu juga, masing-masing pasangan suami istri jangan menceritakan kelebihan dan memuji-muji teman kerjanya; teman kerja perempuan maupun laki-laki, karena akan berakibat fatal. Misalnya; suami menceritakan kelebihan teman kerja perempuannya kepada istrinya, maka akan timbul kecurigaan pada istri terhadap suaminya. Begitu juga sebaliknya. Bila suami menceritakan kelebihan teman kerja prianya, maka istri akan membanding-bandingkan orang tersebut dengan suaminya. Sementara, membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain akibatnya adalah kita tidak merasa nyaman dengan apa yang kita miliki. Kita senantiasa merasa kurang dan lupa dengan pemberian Allah. Yang tampak di mata kita hanya kepunyaan orang lain, sehingga kita tidak mensyukuri apa yang diberikan Allah kepada kita. Orang yang senantiasa membanding-bandingkan pekerjaan, harta, posisi dan segala apa yang dimilikinya dengan apa yang dimiliki orang lain, ia tidak akan merasa tenang dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluar, agar jangan sampai kita hanya melihat apa yang dimiliki orang lain adalah pertama; meyakini bahwa apa yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya akan dimintai pertanggung jawaban. Kedua; kita harus melihat orang-orang yang kondisinya lebih rendah dari kita, sehingga kita akan senantiasa mensyukuri apa yang diberikan Allah kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi lain bila suami menceritakan masalahnya di luar rumah kepada istrinya, dikhawatirkan istri akan menceritakannya kepada kerabatnya, yang pada akhirnya menjadi gosip di antara mereka. Gosip-gosip inilah yang akan menyebabkan keributan dalam sebuah komunitas. Oleh karena itu, tidak semua yang diketahui suami harus diceritakan kepada istrinya, begitu juga sebaliknya. Karena keributan yang terjadi berkaitan dengan keluarga dan akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan rumah tangga itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah di luar rumah tangga tidak perlu diusung ke dalam lingkungan rumah tangga, begitu juga sebaliknya masalah dalam lingkungan rumah tangga tidak perlu dibawa keluar, bila pasangan suami istri ingin hidup tenang dan tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tidak Mengungkapkan Rasa Kasih Sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia secara fitrah membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari sesamanya. Perhatian dan kasih sayang kaitannya dengan hati. Namun, bila tidak ditampakkan dengan bentuk perilaku dan sikap maka orang lain tidak akan memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan kehidupan rumah tangga Rasulullah saw bersabda: “Ucapan seorang suami kepada istrinya “Aku mencintaimu” sama sekali tidak akan hilang dari hatinya”. [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mengungkapkan kasih sayang kepada sesamanya, khususnya ungkapan kecintaan suami kepada istrinya, akan membuat istri memahami seberapa jauh kasih sayang suaminya kepadanya. Pengungkapan kasih sayang bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti; memberi hadiah, menelepon, meluangkan waktu untuk berbincang-bincang, bercanda, dan mengungkapkan dengan kata-kata. Ungkapan kasih sayang suami kepada istri adalah motor penggerak dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila suami mengingat hari ulang tahun kelahiran istrinya, hari perkawinan mereka, kemudian mengadakan acara untuk mensyukuri ikatan suci ini, suami mengucapkan terima kasih atas segala jerih payah si istri, dan meminta maaf atas segala kesalahannya, maka kehidupan mereka akan lebih ceria dan menyenangkan begitu juga kekhawatiran dan kesedihan yang menghantui pikiran istri tidak akan mampu memisahkan ikatan suci keduanya, dan tidak seorang pun bisa mewujudkan kedengkian di antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan rumah tangga, perlu adanya pengungkapan rasa kasih sayang dari kedua belah pihak, di berbagai kondisi. Bila suami atau istri berpikir bahwa kasih sayang hanya berurusan dengan hati, dan tidak perlu diungkapkan, maka kehidupan rumah tangga akan menjadi dingin dan senyap, dan kecintaan masing-masing terhadap pasangannya akan memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, untuk memiliki sebuah barang boleh jadi seseorang mudah untuk mendapatkannya. Tetapi menjaganya tidak semudah yang dibayangkan. Perlu adanya tips-tips, sehingga barang tetap awet dan terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi seseorang mudah untuk mengikat sebuah ikatan perkawinan, namun menjaga ikatan, perlu ilmu dan cara-cara yang diperlukan, karena pasangan kita bukan barang, melainkan orang. Orang yang memiliki perasaan. Di sinilah kita harus menjaga perasaan pasangan kita, agar ikatan suci perkawinan tetap terjaga sampai kita tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] . Muhammad Ray Shahri, Muntkhab Mizan Al-Hikmah, talkhis Sayyid Hamid Al-Husaini, Dar Al-    Hadis, 1383 H.S,  hal 171, hadis 1962.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] . Lihat, Muntkhab Mizan Al-Hikmah, hadis-hadis akhlak buruk, hal 171.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] . Nahjul Balaghah, Hikmah 143.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] . Mahajjah Al-Baidho, jilid 3, hal 88.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] . Mizan al-Hikmah, hadis no. 18190.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] . Al-Kafi, jilid 2, hal 206.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] . QS, Al-Humazah: 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] . Mizan Al-Hikmah, hal 401.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] . Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] . Al-Kafi, jilid 2, hal 459.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] . Mizan Al-Hikmah, jilid 2, hadis ke 9196.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] . Wasail As-Syiah, jilid 14, hal 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Soal: Apa peran iman dalam kehidupan manusia?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt; Bila Anda memasuki sebuah rumah yang tidak ada pemiliknya, tidak memiliki kamera untuk merekam perbuatan Anda di rumah tersebut, maka tidak ada alasan buat Anda untuk bersikap santun dan menjaga tata krama. Di rumah yang tidak ada aturannya, kita bebas. Apa saja yang kita lakukan tidak ada hubungannya dengan orang lain. Bila untung, maka kembali pada diri kita sendiri. Dan, bila rugi, maka kita sendirilah yang merugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini akan sangat berbeda bila Anda memasuki sebuah rumah yang ada pemiliknya. Pemilik yang senantiasa mengawasi gerak langkah kita. Pada kondisi semacam ini, cara hidup kita akan berbeda dengan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita beriman bahwa dunia ini ada yang punya. Namanya adalah Allah Yang Maha Bijaksana. Ada hari akhir untuk mengevaluasi segala tingkah laku kita yang disebut Ma’ad. Setiap pikiran, ucapan dan perbuatan kita telah disiapkan pahala atau siksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dalam kondisi seperti ini menuntut perhitungan lain. Kita akan menghitung dan mengawasi perbuatan kita sendiri. Hawa nafsu yang senantiasa bergejolak hendaknya dikendalikan. Perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan oleh pemilik dunia ini hendaknya tidak kita lakukan. Karena kita tahu, seluruh perbuatan; baik atau buruk, akan dicek oleh-Nya. Allah senantiasa bersama kita.[infosyiah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Soal: Amar makruf dan nahi mungkar kewajiban semua atau kelompok tertentu saja?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt; Pengemudi mobil yang melanggar aturan di jalan yang hanya memiliki satu jalur dengan mengendarai mobilnya berlawanan arah, dapat disikapi dengan dua hal. Pertama, semua pengendara membunyikan klakson mobilnya. Kedua, polisi menghentikan pengendara tersebut dan menilangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Quran memerintahkan kepada semua kaum muslimin untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Allah berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran: 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada sekelompok orang untuk melaksanakan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar” (Ali Imran: 104).[infosyiah]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-325154243142593877?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/325154243142593877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=325154243142593877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/325154243142593877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/325154243142593877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2007/03/faktor-faktor-pemadam-kasih-sayang.html' title='Edisi 1 / 2007'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-3373615100919448602</id><published>2007-01-11T07:28:00.000-08:00</published><updated>2007-01-11T07:29:53.474-08:00</updated><title type='text'>Edisi 23</title><content type='html'>&lt;h2 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow;font-size:180%;color:#292929;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; color: rgb(41, 41, 41);"&gt;Dhul-Hijjah: Bulan Penyempurnaan Agama Islam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow;font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;h1 style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow;font-size:130%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Oleh: Teguh Sugiharto, SE&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h1&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;&lt;blockquote&gt;Umat Islam seluruh dunia merayakan tanggal 10 Dhul-Hijjah sebagai hari raya yang ditandai dengan pemotongan hewan kurban. Peristiwa ini dilaksanakan untuk memperingati peristiwa penyembelihan Ismail as putera Ibrahim as. Penyembelihan ini diperintahkan Allah SWT sebagai ujian pada keimanan dan ketaatan mereka berdua. Juga sebagai sebagai contoh pengorbanan di jalan Allah SWT. Setelah penyembelihan ini beliau –dan keturunaannya yang disucikan- diangkat sebagai Imam bagi seluruh umat manusia. Argumentasi historis maupun tekstual mengenai hal ini telah menjadi sebuah pengetahuan yang diketahui hampir seluruh umat Islam.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Namun umat Islam pada umumnya melupakan atau malahan tidak mengetahui bahwa dalam bulan Dhul-Hijjah juga terjadi peristiwa lain yang tidak kalah besar (untuk tidak mengatakan jauh lebih akbar) untuk diperingati. Yaitu pada tanggal 18 Dhul-Hijjah 10 Hijrah (Haji Wada’) turun ayat penyempurnaan agama dan keridhaan Allah SWT pada umat, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS 5: 3). Artinya pada hari tersebut selesailah tugas Rasulullah SAW menyampaikan risalah. Hanya sebagian kecil umat Islam yang dengan konsisten merayakan dan memperingati hari bersejarah ini dan menyebutnya sebagai hari raya Idhul Ghadir mengambil nama tempat turunnya ayat tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Tampak jelas dalam ayat di atas bahwa Islam disempurnakan oleh Allah SWT sebagai agama bagi manusia sampai dengan akhir zaman. Penyempurnaan agama Islam terjadi sesudah Allah SWT menganugerahkan sebuah nikmat (telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku). Nikmat menjadi kata kunci dalam memahami ayat di atas karena nikmat tersebut adalah nikmat tersebut adalah sesuatu yang menjadi sebab sempurnanya agama dan dengannya Allah SWT meridhai Islam sebagai agama bagi manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Sebagai umat yang selalu diperintahkan Allah SWT agar menggunakan akalnya maka sudah sewajarnyalah kita berusaha mendalami dan mencari makna atau tafsir dari ayat ini. Ayat ini dapat menjadi modal awal perenungan dan pencarian sehingga kita juga akan memperoleh nikmat tersebut dan mendapat keridhaan Allah SWT. Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah nikmat apakah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut. Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan dalam khazanah Hadist dan tinjauan sejarah agama. Namun artikel ini hanya akan mencari jawabannya dalam Al-Qur’an. Itupun hanya sekadar pemicu atau petunjuk ringkas saja yang semoga dapat mendorong kita semua kembali membuka dan mempelajari Al-Qur’an yang merupakan petunjuk Allah yang akan tetap terjaga kebenaran dan keotentikannya sampai akhir zaman. Jika belum mampu memahami bahasa Arab maka merenungkan terjemahnya pun telah mencukupi sambil terus mencari dari berbagai sumber khususnya dari para ulama dari berbagai ragam pemikiran agar didapatkan kesimpulan umum yang cukup memuaskan dahaga keberagamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Ternyata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nikmat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimaksud&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dipandang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Allah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;SWT sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sesuatu hal yang&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;sangat penting. Malahan sebagai kunci sempurna atau cacatnya keislaman seseorang. Allah SWT berulangkali menanyakan nikmat tersebut khususnya dalam surat Ar-Rahman. Dalam surat ini setelah Allah SWT terangkan tentang berbagai nikmat yang dikurniakan kepada manusia maka Allah SWT menanyakan tentang nikmat. Alhasil, nikmat yang ditanyakan adalah nikmat yang belum disebutkan dalam surat ini. Maka untuk mengetahui nikmat apakah yang dimaksud kita harus mencari jawabannya dalam berbagai surat lainnya. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar Rahman: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77). Silakan meneliti Al-Qur’an tentang hal ini! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Tentang pentingnya nikmat dimaksud secara jelas dapat kita temukan dalam banyak ayat khususnya QS 55: 39, “Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.” tetapi “kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang nikmat.” (QS 102: 8) Ternyata Allah SWT pada hari kiamat tidak akan menanyakan dosa yang telah kita buat namun Allah SWT hanya menanyakan: apakah manusia mensyukuri nikmat yang menjadi sebab disempurnakannya Islam. Jelas yang ditanyakan pastilah hal yang sangat besar. Tanpa mengakui dan membawa nikmat ini maka Islam yang dibawa seseorang pada hari kiamat akan dipandang sebagai Islam yang tidak sempurna (karena Islam dipandang sebagai sempurna setelah Allah menganugerahkan nikmat dimaksud) alias Islam yang cacat. Apakah Allah SWT yang Mahasempurna menerima Islam yang cacat? “Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” (QS Al Mursalat: 15, 19, 24, 28, 34, 37, 40, 45, 47, 49). Mengerikan...! Yang Mahabesar yang menyatakan bahwa siapapun yang mendustakan nikmat tersebut akan mendapatkan kecelakaan yang besar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Menurut Al-Qur’an, Allah SWT tidak akan menerima ke-Islam-an seseorang yang tidak mensyukuri nikmat dimaksud karena penolakan (atau ketidaktahuan) ini menjadi penanda bahwa sesungguhnya keislaman seseorang mengandungi cacat yang fatal. Seseorang tersebut akan termasuk dalam kategori mereka yang menyimpang dan dimurkai. Bukti akan hal ini dapat dijumpai dalam bacaan shalat. Namun sayangnya kebanyakan umat Islam lengah dan telah&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;merasa&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;cukup&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;apa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dilakukannya sehingga tidak memperhatikan makna bacaan shalatnya. Bukankah dalam setiap shalat, kita senantiasa membaca Surat Al-Fatihah? Tidakkah di dalamnya terdapat ayat, ihdinash shiratal mustaqim (QS 1: 6), penggunaan kata ash-shirat menunjukkan bahwa kata tersebut adlah kita tunggal. Dengan demikian terjemah dari ayat ini seharusnya adalah “Tunjukilah kami satu-satunya jalan lurus.” Setiap hari minimal 17 kali kita memohon petunjuk, namun sudahkah kita mendengar dan merenungkan jawaban Allah SWT yang ternyata langsung diberikan seketika itu juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Allah SWT menjawab permohonan kita dengan menunjukkan satu-satunya jalan lurus. Jalan lurus yang akan mengantarkan kita kepada Allah SWT, kepada tujuan penciptaan manusia adalah “...jalan mereka yang Engkau anugerahi Nikmat kepada mereka” (QS 1: 7) “bukan jalan mereka yang dimurkai dan sesat.” Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nikmat yang dimaksud dalam QS 5: 3 yang disebut di awal artikel adalah bahwa manusia dapat termasuk ke dalam golongan mereka yang dianugerahi nikmat hanya dan hanya jika mengikuti dan taat kepada mereka. Pertanyaan selanjutnya adalah “Siapakah mereka yang dianugerahi nikmat yang menjadi sebab sempurnanya agama tersebut?” Dan “Nikmat apakah yang dianugerahkan kepada mereka sehingga kita diperintahkan mengikuti mereka?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Artikel ini tidak berpretensi untuk menjawab dua pertanyaan penting di atas. Pertanyaan yang jawabannya akan menghantarkan manusia pada keselamatan di hari kiamat nanti. Pembaca silakan mencari jawabannya dalam Al-Qur’an. Slogan kembali kepada Al-Qur’an dapat diwujudkan jika umat Islam kembali membuka dan mempelajari makna kandungannya secara kritis. Tujuan artikel ini hanya untuk mengingatkan kembali umat Islam tentang pentingnya menjadikan tanggal 18 Dhul-Hijjah sebagai salah satu hari raya minimal sebagai momentum umat Islam kembali mempelajari Al-Qur’an karena pada hari itu telah terjadi sebuah peristiwa dahsyat. Peristiwa penyempurnaan agama dan diridhainya Islam oleh Allah SWT. Bahkan penyembelihan Ismail as oleh Ibrahim as hanya merupakan satu bagian kecil dari kesempurnaan Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;Peristiwa penyembelihan tersebut haruslah dimaknai sebagai contoh pengorbanan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt; seorang manusia dalam mencapai kesempurnaan penciptaannya. Dalam pencapaian tujuan hidupnya. Dewasa ini umat Islam bahkan tidak mau mengorbankan waktunya sekadar untuk mempelajari agamanya. Maukah anda mengorbankan waktu, tenaga, dan pemikiran mengkaji Al-Qur’an sekadar mencari jawaban atas dua pertanyaan di atas? Allah SWT tidak perintahkan kita menyembelih putera kita tercinta sebagaimana pernah diperintahkan kepada Ibrahim as? Akankah kita sanggup jika Allah SWT memerintahkan pertobatan dengan membunuh diri kita sebagaimana pernah Allah SWT perintahkan kepada umat Musa as? Allah SWT pun tak pernah menimpakan bala’ dan bencana (azab) sebagaimana ditimpakan kepada umat-umat terdahulu akibat penentangan mereka terhadap perintah-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Al-Qur’an pun telah mengingatkan bahwa masuk syurga itu tidak mudah, seperti tersebut dalam QS 2: 214, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) ...” Umat terdahulu telah diuji dan disaring Allah SWT dengan malapetaka dan bencana. Sekarang masihkah kita tetap tidak mengambil pusing peringatan Allah SWT. Marilah kita mencari jalan menuju Allah SWT berdasarkan kartu nama yang telah diberikannya kepada umat manusia yaitu Al-Qur’an. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt;Akhir kata, mengingat pentingnya kejadian pada tanggal 18 Dhul-Hijjah 10 H (Haji Wada’) sudah sewajarnyalah kita semua memperingatinya demi mendapatkan petunjuk kebenaran. []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39); font-weight: bold;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 27pt;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39); font-weight: bold;"&gt;Dikutip dari Islam Alternatif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39); font-weight: bold;"&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 27pt;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow;font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;; font-weight: bold;"&gt;“Pada Hari ini Telah Kusempurnakan…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h3 style="text-align: center;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial Narrow;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Oleh: Yasser Arafat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Pada kesempatan kali ini, saya akan menyampaikan sedikit mengenai salah satu dari sekian banyak sejarah Islam yang telah hilang dari ingatan mayoritas umat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Pada tanggal 18 Zulhijah, ada sebuah sejarah – kalau boleh saya mengatakan peristiwa tersebut adalah sejarah besar. Saya menyebutnya sebagai sejarah disempurnakannya Agama Islam. Jarang di antara kita yang mengetahui riwayat ini. Bahkan sebagian kaum Muslimin menganggap bahwa riwayat ini adalah riwayat dho’if.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Jadi, pada tanggal 18 Zulhijah, Rasulullah sawaw beserta kaum Muslimin –setelah melaksanakan ibadah haji- berangkat dari Makkah menuju Madinah. Di tengah perjalanan di tempat yang bernama Khum, Malaikat Jibril turun membawa wahyu Allah Swt: &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Q.S al-Maidah 67)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Ayat tersebut mengandung makna bahwa Nabi diperintahkan oleh Allah Swt untuk menyampaikan suatu amanat yang sangat penting. Namun Nabi sawaw ragu untuk menyampaikannya, karena Nabi khawatir kalau-kalau umatnya akan menolak amanat tersebut. Lalu Allah memberinya jaminan bahwa beliau akan dilindungi dari gangguan manusia. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang menolak amanat tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1027" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;z-index:2'" from="-2.2pt,50.05pt" to="420.8pt,50.05pt" strokeweight="4.5pt"&gt;  &lt;v:stroke linestyle="thinThick"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="position: absolute; z-index: 1; left: 0px; margin-left: -7px; margin-top: 63px; width: 573px; height: 9px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk berhenti dan membangun mimbar dari pelana-pelana kuda. Di atas mimbar tersebut Rasulullah sawaw menyampaikan pidatonya. Pidato Rasulullah tersebut sangat panjang, sehingga di sini saya akan menyampaikan ringkasannya saja.Nabi berkata, “Wahai manusia, mungkin aku akan segera menerima panggilan Ilahi dan akan berpisah dari kalian semua……”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;“Apakah kalian bersaksi bahwa Tuhan semesta alam adalah satu dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya dan bahwa tidak ada keraguan tentang kehidupan di akhirat?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Mereka semua berkata, “Ya, kami bersaksi atasnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Kemudian Nabi berkata, “ Wahai manusia, aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang sangat berharga (tsaqalain) sebagai wasiat kepada kalian dan akan dilihat bagaiamana kalian memperlakukan keduanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Seorang lelaki berdiri dan berkata, “Apa dua hal itu ya Rasulullah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Nabi menjawab, “Satu darinya adalah Kitab Allah yang satu sisinya terhubung kepada Allah dan sisi lainnya berada di tangan kalian. Satunya lagi adalah al-Itrah Ahlulbaytku. Keduanya tidak akan terpisah selama-lamanya sampai menemuiku di al-haudh.”“Janganlah kalian mendahului keduanya dan jagalah perilaku kalian terhadap mereka, supaya kalian tidak binasa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Lalu beliau sawaw mengangkat tangan Ali k.w sehingga terlihat kedua ketika Ali yang putih. Nabi berkata, “Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kaum Mukmin. Aku lebih pantas dan berhak atas kaum mukmin daripada diri mereka sendiri.”“wahai manusia, siapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya juga. (Man kuntu maula fa’aliyuun maula).” (Nabi mengulang sampai 3 kali).“Ya Allah, cintailah orang yang mencintai Ali dan musuhilah yang memusuhinya…..”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Setelah itu Malaikat Jibril turun membawa wahyu Allah Swt: &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(QS. Al-Maidah 3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Jadi wahyu dari Allah yang menjadikan sempurnanya agama Islam ini adalah diangkatnya Ali sebagai maula kaum Mukmin.Apa arti maula itu? Maula adalah orang yang lebih pantas dan lebih berhak atas kaum mukmin dari diri mereka sendiri atau bisa dikatakan bahwa maula itu adalah pemimpin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Riwayat ini termasuk riwayat yang sangat mutawatir. Al-Dzahabi, seorang ahli kritik hadits berkata bahwa riwayat tersebut mutawatir, artinya banyak sekali yang meriwayatkannya. Al-Allamah al-Amini dalam kitab al-Ghadir menyebutkan 110 sahabat besar yang meriwayatkan hadits ini. Menurut Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari juz 7 hlm.74, “Adapun hadits &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;man kuntu maula fa’aliyun maula&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dikeluarkan oleh Turmudzi dan al-Nasa’i dan sanadnya sangat banyak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Inilah secara singkat apa yang terjadi pada peristiwa bersejarah itu, yaitu penyempurnaan Islam. Marilah kita sampaikan pujian kepada Allah yang telah menyempurnakan agama ini, atas kesempurnaan nikmat-Nya dan keridhoan Tuhan terhadap risalah Rasulullah sawaw dan kepemimpinan Ali k.w sesudah Rasulullah sawaw.[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:line id="_x0000_s1026" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;z-index:1;" from="-4.5pt,522.75pt" to="422.1pt,522.75pt" strokeweight="4.5pt"&gt;  &lt;v:stroke linestyle="thinThick"&gt; &lt;/v:line&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#272727;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; color: rgb(39, 39, 39);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-3373615100919448602?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/3373615100919448602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=3373615100919448602' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/3373615100919448602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/3373615100919448602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2007/01/edisi-23.html' title='Edisi 23'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-5135810294978448717</id><published>2006-12-21T07:44:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T07:53:11.560-08:00</updated><title type='text'>Saya Sesat, Anda Benar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya Sesat, Anda Benar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Yasser Arafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Suatu saat ketika saya sedang melamun di depan kamar, teman kost saya menyanyikan sebuah nasyid yang sangat indah dengan lantunan yang merdu. Nampaknya syair nasyid tersebut diambil dari terjemahan surat al-Fatihah. Kurang lebih syairnya seperti di bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Dengan menyebut nama-Mu ya Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yang Maha Pengasih Penyayang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi-Mu ya Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;Pemelihara seluruh alam raya&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Engkaulah Maha Pengasih dan Penyayang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yang menguasai hari pembalasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada-Mu kami menyembah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan Pada-Mu kami mohon pertolongan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jalan orang-orang yang Kau beri nikmat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bukan jalan mereka yang Kau murkai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan bukan pula jalan mereka yang sesat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;        Bait ketiga dari syair tersebut mengingatkan saya dengan keadaan umat Islam saat ini. Banyak di antara umat Islam sekarang yang menganggap pendapatnya-lah yang paling benar, keyakinannya-lah yang berada pada kebenaran. Mereka menganggap bahwa jalan yang mereka ambil adalah jalan yang lurus. Perbedaan pendapat dan penafsiran yang ada di antara umat Islam membuat mereka berpecah belah, merasa diri paling benar sendiri dan orang lain salah. Kadang timbul konflik yang diwarnai dengan hujatan-hujatan, caci maki, bahkan sering kali vonis sesat dan kafirpun dilontarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Apa penyebab semua ini? Perbedaan yang seharusnya wajar menjadi tidak wajar lagi. Mengapa saya mengatakan bahwa perbedaan pendapat itu wajar? Setiap orang diciptakan oleh Allah SWT dengan segala sesuatu yang serba berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Bahkan anak kembar sekalipun tidak mungkin sama antara keduanya, keduanya memiliki ciri khas masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Dua orang yang melihat sebuah gambar yang sama lalu mereka kita perintahkan untuk menafsirkan gambar tersebut. Maka dua orang itu pasti menafsirkan gambar tersebut berdasarkan sudut pandang mereka masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran setiap orang berbeda-beda yang mana perbedaan pemikiran ini akan mengakibatkan munculnya perbedaan pendapat dan penafsiran dalam kehidupan keberagamaan. Karena sebab itu, maka perbedaan pendapat adalah wajar dan manusiawi. Jika tidak berbeda maka bukan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Jika perbedaan pendapat itu wajar, lalu apa yang menyebabkan konflik yang terjadi antara umat Islam selama ini?Menurut saya penyebab konflik tersebut adalah fanatik buta dan merasa diri paling benar sendiri. Jika dalam diri seseorang sudah melekat kuat dua sifat tersebut, maka dia akan membenci dan tidak menghargai perbedaan pendapat. Dia merasa pendapatnya saja yang paling benar dan orang lain salah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Manusia sebagai makhluk relatif tidak memiliki pengetahuan yang sempurna tentang sesuatu yang bersifat mutlak. Manusia hanya memiliki pengetahuan mana yang benar dan mana yang salah. Karena benar dan salah itu relatif. Benar menurut saya, belum tentu benar menurut anda. Salah menurut saya belum tentu salah menurut anda. Lalu siapakah yang mengetahui kebenaran yang hakiki sedangkan kebenaran itu bersifat mutlak? Maka hanya sesuatu yang bersifat mutlak saja yang dapat mengetahui kebenaran. Siapa itu? Jika anda menjawab “Tuhan” maka anda termasuk orang yang “benar”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Dalam surat al-Fatihah ayat 6-7 disebutkan permohonan kita sebagai manusia (makhluk relatif) kepada Allah (Dzat mutlak) untuk ditunjukkan jalan kebenaran (mutlak) bukan jalan kesesatan. Dalam ayat tersebut kita sudah mengakui ketidakberdayaan kita untuk mengetahui kebenaran yang hakiki, lalu kenapa banyak di antara kita masih bersombong diri dengan merasa kita-lah yang berada pada kebenaran sedangkan orang yang tidak sependapat dengan kita dianggap sebagai orang sesat bahkan kafir. Apa belum cukup berita dari Allah dalam surat an-Nahl ayat 125?“………Sesungguhnya hanya Tuhanmu-lah yang lebih mengetahui siapa-siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan hanya Tuhanmu-lah yang lebih mengetahui siapa-siapa yang mendapat petunjuk-Nya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:9;"  &gt;Apakah kita masih berani bersombong diri setelah mendengar ayat tersebut? Apakah kita masih berani memvonis seseorang sesat atau tidak setelah membaca ayat tersebut? Terserah anda……[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-5135810294978448717?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/5135810294978448717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=5135810294978448717' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/5135810294978448717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/5135810294978448717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2006/12/saya-sesat-anda-benar.html' title='Saya Sesat, Anda Benar'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-2912945725978913133</id><published>2006-12-20T00:10:00.000-08:00</published><updated>2006-12-20T00:42:24.133-08:00</updated><title type='text'>Kunang-kunang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wq-VFaaMoeI/RYj3U1_lShI/AAAAAAAAAAY/ULKWgfvjnOA/s1600-h/094255.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wq-VFaaMoeI/RYj3U1_lShI/AAAAAAAAAAY/ULKWgfvjnOA/s320/094255.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5010526522912885266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perjuangan Kunang-Kunang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Yasser Arafat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kunanti dirimu, sampai aku ketiduran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kumimpi dikejar kunang-kunang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;taringnya keluar kepalanya membesar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kutakut dikejar kunang-kuanng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;seperti itulah bait-bait lagu yang dinyanyikan oleh group band Esnanans.  sekilas memang lagu tersebut tampak seperti lagu dengan muatan makna yang ringan. tetapi jika kita mau memikirkan dan merenungkan lagu tersebut sejenak saja, maka kita akan mendapati kedalaman makna dari tokoh yang diceritakan pada lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya...KUNANG-KUNANG. sejenak saya merenung apa itu kunang-kunang. bagaimana kunang-kunang melalui hari-harinya. bagaimana tingkah laku kunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunang-kunang adalah salah satu hewan malam. dia bertubuh kecil dan ada satu keunikan yang dia miliki, yaitu dia bisa mengeluarkan cahaya dari dalam tubuhnya. di kala malam menyelimuti bumi ini, serombongan kunang-kunang muncul dari suatu tempat. seiring keluarnya mereka dari sarangnya, mereka memancarkan cahaya kecil yang indah jika lihat. mereka tampak antusias sekali. dengan keberanian yang mereka miliki, mereka berani keluar dan terbang ke sana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunang-kunang paham betul bahaya yang ada di luar sarang mereka. kunang-kunang mengerti betul bahaya apa yang sewaktu-waktu bisa menimpa mereka. tetapi mereka seakan tidak memperdulikan hal tersebut. mereka tidak ingin kalah dengan bulan dan bintang yang memperindah malam dengan cahaya mereka yang begitu besar. mereka menerangi malam dengan cahaya yang jauh lebih besar dari cahaya yang diberikan oleh seekor kunang-kunang. tetapi kunang-kunang tetap saja penuh semangat memancarkan cahaya kecilnya hanya dengan satu tujuan, memperindah malam yang gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak di antara pemuda-pemuda Islam yang enggan sekali berkorban. hanya dengan satu alasan, apa yang mereka miliki belumlah seberapa. hanya dengan anggapan bahwa pemberian sedikit itu tidak dapat memberikan manfaat apa-apa, mereka hanya berdiam diri melihat Islam menjadi terbelakang, mereka hanya menjadi penonton di saat orang-orang non-Muslim menjadi pemeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kunang-kunang itu lebih mulia dibandingkan dengan pemuda-pemuda Islam? lihatlah kunang-kunang, bagaimana mereka memancarkan cahayanya walaupun cahaya itu jauh lebih kecil daripada cahaya bulan, tetapi mereka tetap saja menyumbangkan cahayanya untuk memperindah malam. jika kita cermati bait lagu di atas, disitu tampak sekali begitu takutnya sang penyanyi terhadap kunang-kunang. walaupun kunang-kunang itu binatang yang kecil tetapi dapat saja sewaktu-waktu memberikan rasa takut kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada saudaraku yang hanya mempunyai semangat dan keberanian yang menggelora, bergabunglah bersama kami di barisan terdepan perjuangan umat ini. kepada saudaraku yang hanya memiliki harta yang berlebih, berikanlah sebagian dari hartamu untuk perjuangan umat ini. kepada saudaraku yang hanya mampu merintih dan menangis, teruslah merintih dan menangis karena rintihan dan tangisan kalian-lah kami berjuang. karena rintihan dan tangisan kalian-lah yang mampu membakar sayap-sayap kami untuk terus terbang dan berjuang. kepada saudaraku yang hanya mampu berdoa, doakanlah perjuangan kami. semoga apa yang kami perjuangkan mendapatkan keridhoan Allah dan kerelaan Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallahu 'alaihi wa Aalihi wasallam&lt;/span&gt; dan keluarganya yang telah disucikan oleh Allah.[]&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-2912945725978913133?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/2912945725978913133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=2912945725978913133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/2912945725978913133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/2912945725978913133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2006/12/kunang-kunang.html' title='Kunang-kunang'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wq-VFaaMoeI/RYj3U1_lShI/AAAAAAAAAAY/ULKWgfvjnOA/s72-c/094255.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-8050160183509417604</id><published>2006-12-19T07:46:00.000-08:00</published><updated>2006-12-20T08:26:19.931-08:00</updated><title type='text'>Oh...Kamis Kelabu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wq-VFaaMoeI/RYgK-V_lSgI/AAAAAAAAAAM/p3R2BW_Yai8/s1600-h/20531969719963l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 228px; height: 171px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wq-VFaaMoeI/RYgK-V_lSgI/AAAAAAAAAAM/p3R2BW_Yai8/s320/20531969719963l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5010266651621673474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oh…Kamis Kelabu I&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Oleh: Husaini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Bulan ini adalah Bulan Maulid. Biasanya kaum Muslimin di seluruh dunia memperbanyak shalawat di bulan ini. Mereka mengenang kembali sejarah-sejarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi Wassalam (Selanjutnya disingkat menjadi Sawaw), bagaimana beliau beserta para sahabatnya berjuang menegakkan syariat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Di bulletin-bulletin dakwah biasanya para penulis menceritakan bagaimana saat-saat kelahiran Rasulullah Sawaw atau menceritakan betapa mulianya akhlak beliau, betapa cintanya beliau kepada umatnya. Tetapi pada kesempatan kali ini saya tidak akan bercerita mengenai itu semua. Semua cerita-cerita itu sudah sering di bawakan oleh para ustadz di mimbar-mimbar masjid, sudah sering ditulis di bulletin-bulletin dakwah. Mungkin tulisan saya ini bukanlah sebuah artikel ilmiah, tetapi hanya sebuah penceritaan ulang sejarah Rasulullah Sawaw dan mungkin apa yang akan saya sampaikan ini jarang sekali kita dengar. Seharusnya ketika anda membaca riwayat yang akan saya tulis di bawah ini, anda tidak akan tersenyum bahagia, tetapi sebaliknya anda mungkin akan terheran-heran bahkan meneteskan air mata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Menurut riwayat -katanya- Rasulullah lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal dan meninggalpun pada tanggal 12 Rabiul Awal. Riwayat ini katanya shahih. Tetapi anehnya kaum Muslimin jarang ada yang tahu bahwa tanggal dan bulan meninggalnya Rasulullah Sawaw sama dengan kelahirannya. Bahkan yang lebih parah lagi banyak kaum Muslimin yang tidak mengetahui bagaimana sejarah meninggalnya Rasulullah Sawaw (Yang Shahih). Saya baru-baru ini mengetahui sejarah meninggalnya Rasulullah tatkala saya membaca kitab-kitab hadits yang terdapat dalam sebuah perpustakaan.Jadi, ketika Rasulullah Sawaw sakit keras, beliau meminta kertas dan tinta-sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari- untuk menuliskan wasiat yang mana jika kita berpegang teguh kepada wasiat itu, kita tidak akan tersesat selama-lamanya. Namun Sayyidina Umar bin Khattab ra menjawab, “Ya Rasulullah, cukuplah bagi kami Kitabullah (Al-Qur’an)” Lalu terjadilah kericuhan. Ada sebagian orang yang meminta agar permintaan Rasulullah itu dipenuhi dan ada sebagian orang yang mengikuti pendapat Sayyidina Umar ra. Melihat keadaan itu, Rasulullah Sawaw pun marah dan berkata, “Keluar kalian dari sini, tidak pantas kalian bertengkar di hadapanku.” Ibnu Abbas menyebut peristiwa ini sebagai “Kamis Kelabu”, dia pun berkata, “Bencana terbesar adalah terhalangnya Nabi dari penulisan wasiat itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Seperti inilah kisah tragis Sang Nabi Besar yang permintaan terakhirnya ditolak oleh sahabatnya sendiri. Padahal kepada orang yang divonis hukuman mati pun masih diberikan kesempatan untuk mengajukan permintaan terakhirnya sebelum dieksekusi. Lalu kenapa kepada Rasulullah, kekasih Allah SWT yang tentunya lebih mulia dari orang yang divonis hukuman mati, kita berani menolak permintaan terakhir beliau? Padahal jika kita mencermati riwayat di atas, kita akan mengetahui bahwa wasiat yang akan disampaikan beliau itu untuk keselamatan kita semua dari jalan kesesatan. Permintaan Rasulullah itu untuk kebaikan kita semua, bukan untuk kebaikan Rasulullah? Lalu mengapa masih saja ada orang yang menunjukkan kesombongannya dengan menolak permintaan Rasulullah itu? Bahkan menurut sebagian riwayat, Sayyidina Umar berkata, “Jangan, Rasulullah sedang sakit keras, beliau sedang mengigau.” Kepada Rasulullah-pun ada di antara kita yang berani mengatakan bahwa Rasulullah sedang mengigau. Padahal Allah telah berfirman dalam al-Qur’an bahwa Ucapan Rasulullah bukanlah menurut hawa nafsunya, melainkan wahyu semata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Lalu apa wasiat Rasulullah itu? Kalau kita mencermati riwayat di atas, Rasulullah berkata jika kita berpegang teguh kepadanya maka kita tidak akan tersesat selama-lamanya. Riwayat ini mirip dengan riwayat mengenai 2 pusaka sepeninggal Rasulullah Sawaw. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka yang berharga, Al-Qur’an dan Ithrah Ahli Baitku, kalau kalian berpegang teguh pada keduanya kalian tidak akan sesat." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Terdapat kesamaan antara riwayat wasiat Rasulullah dengan riwayat 2 pusaka di atas, yaitu jika kita berpegang teguh kepadanya kita tidak akan tersesat selama-lamanya. Apakah mungkin wasiat yang hendak disampaikan oleh Rasulullah adalah Al-Qur’an dan Ithrah Ahli Bait? Wallahu a’lam, yang jelas terdapat kesamaan tujuan dari kedua riwayat tersebut, yaitu agar kita tidak tersesat selama-lamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Riwayat 2 pusaka di atas diriwayatkan oleh Muslim, Kitab Fadhoilus Sohabah Bab Fadhail Ali;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Turmudzy Juz 2, ha. 308; Mustadrak al-Hakim Juz 4, ha. 48, 109; Musnad Ahmad Juz 3, hal. 17, Nasa’i Kitab Khosois Imam Ali. Riwayat ini dikenal dengan Hadits Tsaqalain dan hadits ini pun derajatnya shahih. Hampir seluruh kitab hadits meriwayatkan hadits ini, hanya Bukhari saja yang tidak meriwayatkannya. Tetapi anehnya, mayoritas kaum Muslimin tidak mengenal hadits ini, mereka lebih mengenal hadits: “Aku tinggalkan pada kalian dua pusaka yang berharga, Al-Qur’an dan Sunnahku, kalau kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan tersesat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:78%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:8;"  &gt;Hadits ini menurut sebagian ulama tidak pantas kita ikuti, yang pantas kita ikuti adalah hadits yang mengatakan bahwa 2 pusaka peninggalan Nabi adalah al-Qur’an dan al-Ithrah Ahli Baitku. Wallahu a’lam bishawab. []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-8050160183509417604?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/8050160183509417604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=8050160183509417604' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/8050160183509417604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/8050160183509417604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2006/12/ohkamis-kelabu.html' title='Oh...Kamis Kelabu'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wq-VFaaMoeI/RYgK-V_lSgI/AAAAAAAAAAM/p3R2BW_Yai8/s72-c/20531969719963l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-1499704338713695602</id><published>2006-12-16T23:43:00.000-08:00</published><updated>2006-12-16T23:44:38.066-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;pre style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Times New Roman;" &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;HIZBULLAH ANTARA PENGHINAAN DAN PEMARTABATAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;" &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;tt&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;" &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(Mengkritisi Opini Hizbut Tahrir dalam Buletin al Islam Edisi 318)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;pre style="text-align: center;"&gt;&lt;tt&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : Redaksi Hizbullah News&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bismillahirahmanirrahim&lt;br /&gt;Allahuma sholi ala Muhammad wa ala Aali Muhammad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hizbut Tahrir (HT) melalui media resminya, Buletin al Islam (12/8/06) menurunkan laporan perkembangan krisis Lebanon, sekaligus memberikan pandangannya terhadap dikeluarkannya Resolusi PBB No. 1701 dan 1559, Laporan -yang lebih tepat disebut opini- diberi judul yang sangat panjang: DARAH LEBANON DIBAYAR DENGAN RESOLUSI MEMATIKAN DI PASAR KONFLIK AS-PERANCIS DENGAN DUKUNGAN DAN KOLUSI PARA PENGUASA DI NEGARI-NEGRI MUSLIM! Dalam tulisan yang tidak berimbang tersebut HT/buletin al-Islam sama sekali tidak melaporkan sikap Hizbullah berkaitan dengan dikeluarkannya Resolusi tersebut, dan seolah menuduh Hizbullah -meminjam istilah HT/Buletin al Islam- tidak menyadari hal itu dengan baik, dan -tentu saja- menempatkan HT/Buletin al Islam lebih pintar ketimbang Hizbullah, seraya menuduh Iran dan Suriah sebagai kambing hitam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;ANTARA HIZBULLAH DAN HIZBUT TAHRIR&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebagai opini sah-sah saja HT/Buletin al Islam mengeluarkan pendapatnya, namun yang perlu menjadi catatan adalah Pertama : HT/Buletin al Islam atau perwakilan HT di sana, tidak satu pun yang terjun dan terlibat dalam pertempuran tersebut. Sehingga dapat dipastikan, HT tidak tahu peta kekuatan dan tebaran pasukan yang mengandung nilai strategis militer dan politik yang digunakan Hizbullah dalam proses tawar tersebut (baik menerima dan menolak Resolusi tersebut). Sebetulnya ditinjau dari sini saja HT/Buletin al Islam telah gagal memanfaatkan networking mereka di Lebanon untuk mengetahui secara persis alat tawar apa yang akan digunakan Hizbullah dalam mensikapi Resolusi tersebut. Sehingga Tulisannya menjadi berbobot, Kedua : Bahwa HT/Buletin al Islam dalam tulisan tersebut tahu bahwa Hizbullah unggul dalm perang tersebut, namun tidak dapat membedakan dengan baik apakah kemenangan Hizbullah tersebut bernilai startegis atau Taktis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Hizbullah tidaklah "sebodoh" seperti yang diperkirakan, mereka sangat mengerti betul setiap manuver Israel dan sekutunya. Boleh anda tanya kepada HT/buletin al-islam, apakah HT/Buletin al-Islam memahami posisi Battle indication tentara Hizbullah yang sedang dipersiapkan pra, saat dan pasca gencatan senjata? Bagaimana peta penempatan battle order, battle position, battle line, battle reconnaissance tentara Hizbullah? Hizbullah sangat mengenal watak bangsa Israel, berbekal pengetahuan mereka terhadap pemahaman sosio kultur bangsa Israel yang dieksplorasi oleh para Ulama Ahlulbayt dengan bantuan Al Qur'an mereka tidak segegabah yang dikira oleh HT/Buletin al Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mereka juga tahu bagaimana menghitung penempatan Battle formation dan battle front untuk menghadapi resolusi PBB tersebut. Yang lebih hebat HT/Buletin al Islam yang tidak terjun dalam perang tersebut mampu menilai bahwa Hizbullah gagal menangani battle handling tentaranya, padahal HT/Buletin al-Islam dapat dipastikan tidak tahu dan tidak paham battle prosedur apa yang digunakan Hizbullah untuk memacetkan alat intai statis dan dinamis Israel. Sekedar informasi Israel memiliki alat intai yang super canggih, alat intai tersebut dipasang dari permukaan tanah hingga ketinggian 37.000 km, belum lagi RPV yang bersliweran tanpa bisa dideteksi di Lebanon selatan tiap hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Siapa yang paling tahu menerima dan menolak Resolusi tersebut adalah mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Bisa jadi HT/Buletin al Islam dibuat bingung, kenapa TNI yang hanya menguasai kota Yogyakarta 6 Jam pada peristiwa serangan umum dapat disebut sebagai kemenangan, dan mungkin akan menyebut perjanjian Renvile sebagai kekejian lantaran harus dipindahkanya satu divisi Kujang Siliwangi ke DIY dan Jawa Tengah. Akan lebih bijak HT/Buletin al Islam bekonsultasi kepada para ahli di bidangnya, kalangan militer misalnya, sudah saatnya HT/Buletin al Islam untuk berhusnudzon pada tentara, sehingga anda dapat menimba pengetahuan mereka sehingga anda lebih arif, bijak dan tentunya cerdas dalam melihat persoalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;PETA STRATEGIS DITIMUR TENGAH&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam alinea berikutnya HT/Buletin al Islam menjelaskan mengenai latar belakang mengapa resolusi tersebut perlu dikeluarkan dengan gaya laporan intelejen HT/Buletin al Islam menjelaskan peta kekuatan Tentara AS, namun sayang tak jelas benar operational plan apa yang akan digunakan AS dalam menghadapi theater war yang baru ini. Jika Petinggi militer Jerman pernah dibuat kalangkabut menghadapi keinginan keras Hitler yang ingin membuka Front Timur dengan operasi Barbarosanya, yang berakibat terbengkelainya Prajurit Field marshal Rommel, dan berujung pada remuknya Jerman akibat operasi overload di Normandia yang kemudian menjadi sebab kekalahan Jerman, Apakah AS juga akan berbuat hal yang sama? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Barangkali HT/Buletin al Islam dapat lebih melengkapi analisanya, berikut kutipan laporannya: bahwa AS sebetulnya mengalami kekalahan di front Afganistan dan Irak tenggelam dalam kubangan rawa katanya, HT/Buletin al Islam menuliskan bahwa AS dirasa perlu menciptakan persoalan baru dengan membuka front baru untuk menyembunyikan dan mengalihkan sementara kejahatan AS di Irak dan Afganistan, atau dengan kalimat sederhana, HT/Buletin al Islam ingin mengatakan bahwa AS menggunakan cara menyelesaikan masalah dengan masalah, dengan konsekuensi wajah Amerika di kawasan tersebut berubah menjadi baik. HT/Buletin al Islam tidak jelas benar dalam menjelaskan strategi sulapan Amerika tersebut, ditambah sejauh mana keampuhan sulapan Amerika di mata bangsa Arab yang puluhan tahun disakitinya, apa mereka begitu bodoh? Dalam tulisan tersebut ada yang lucu, menurut HT/Bulein al Islam tampilan wajah baru AS di Timur Tengah tersebut akan mendongkrak suara Bush dan Partai Republik untuk memenangkan pemilu berikutnya. Apa yang lucu? Bukankah Undang-Undang AS hanya mengijinkan orang menjabat persiden dua kali, dan Bush saat ini kali kedua memegang jabatan Presiden. Jadi bagaimana ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;AMERIKA MENCENGKRAM SURIAH DAN IRAN?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;HT/Buletin al Islam menulis bahwa Amerika memiliki "cengkraman yang cukup diperhitungkan" atas Iran (dan suriah). Tapi tiba-tiba menurut HT/Buletin, AS kesulitan memasuki kedua negara itu, tak dijelaskan pula secara pasti apa yang menyebabkan AS yang sudah memiliki cengkraman kuat tiba-tiba menjadi ompong. Lebih jauh HT/Buletin al Islam memandang bahwa untuk mengalihkan perhatian dan membuat "wajah AS berubah" tersebut dengan memanfaatkan Iran untuk memberi konsesi dalam pengelolaan Irak dengan imbalan Iran menghentikan Program Nuklirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lagi-lagi HT/Buletin al-Islam membuat pendapat ngawur. Sepertinya HT/Buletin al Islam tidak mengetahui masalah program Nuklir Iran, padahal media masa Indonesia cukup banyak menuliskan "bahwa konsensi apapun yang diberikan kepada Iran tidak akan mengubah pendirian Iran untuk melanjutkan proyek Nuklirnya", bahkan Ahmadinejad saat berkunjung ke Indonesia pun mengungkapkan hal yang sama. Ditambah komentar para Ulama Iran sendiri yang mengeluarkan fatwa pentingnya Umat Islam pada umumnya dan Iran Khususnya untuk memikirkan menggunakan energi nuklir untuk menghadapi krisis minyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seperti tidak memahami geopolitik timur tengah, asal saja HT/Buletin al Islam mengatakan AS akan memberikan konsesi mengelola Irak ditukar dengan Program Nuklir dan Iran mau-mau saja menerimanya, apakah pemerintah Iran itu lebih bodoh dan HT/Buletin al Islam lebih pintar. Program Nuklir Iran memlikiki kepentingan strategis ekonomi jangka panjang bagi rakyat Iran sendiri, dengan tujuan rakyat Iran mendapatkan energi yang sangat murah, sehingga tidak membebani ekonomi rakyatnya, dan menjadikan minyak sebagai sumber devisa negara, sehingga meningkatkan pendapatan Negara dengan begitu Iran dapat lebih mensejahterakan rakyatnya" (Lihat pernyataan Ayatullah Uzma Sayeed Ali Khamenei di Irib.ir). Menurut HT/Bulein al Islam, Program itu mau ditukar dengan Irak yang penuh persoalan yang sudah dapat dipastikan AS tidak dapat dijamin konsistensi kebijakannya. Lalu kita patut bertanya bagaimana reaksi negara Timur Tengah semacam Saudi, Yordania, Mesir, mengapa pula konsesi juga tidak diberikan kepada mereka atau suku kurdi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dalam salah satu paragrafnya HT/Buletin al Islam menyebutkan Amerika bakal meredam kekerasan Hizbullah dengan cara mendikte Iran dan Suriah untuk mengendalikan Hizbullah. Tapi HT/Buletin al Islam tidak menjelaskan secara rinci bagaimana negara AS yang sejak lama menjadi musuh rakyat dan pemerintahan Republik Islam Iran itu tiba-tiba dapat di dekte oleh Amerika Srikat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;SIAPA YANG MENGHINAKAN ITU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;HT/Buletin al Islam melaporkan bahwa "Hizbullah sejak awal 80-an dilatih Iran dan Suriah hingga rekonsiliasi, dan saat rekonsiliasi ini Suriah dan Iran menghentikan bantuannya terhadap Hizbullah dengan maksud menghinakan seraya membiarkan Hizbullah berperang sendiri.” Pembaca dibuat bingung dengan tulisan itu, dikatakan Iran dan Suriah membantu hingga rekonsiliasi (tidak disebutkan kapan, mungkin saat terjadinya gencatan senjata) tetapi pada saat yang sama disebutkan bahwa Iran dan Suriah telah menghinakan Hizbullah dengan membiarkanya berperang sendiri. Atau dengan kata lain Iran dan Suriah itu membantu Hizbullah baik militer dan pelatihan sejak tahun 80-an hingga terjadinya Rekonsiliasi (gencatan senjata) dan Iran serta Suriah pada saat yang sama juga bermaksud menghinakan Hizbullah dengan membiarkan bertempur sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebaiknya kita tanyakan saja kepada Dececion Maker HT/Buletin al-Islam, menurut anda apa perlunya negara tercinta ini mengharusan TNI-AD membentuk satuan SANDI YUDHA yang punya kemampuan melatih dan membina unsur-unsur lokal dan terbukti sukses membentuk satuan tempur lokal di Timor-Timur dan membiarkan mereka bertempur sendiri menghadapi Fretelin saat sebelum seroja, apakah itu disebut menghinakan? Mengapa AS membutuhkan Green Baret yang sukses dalam membina kekuatan lokal di Amerika Latin untuk kemudian membiarkan mereka bertempur sendiri? Apa kreteria menghinakan? Apakah anda akan menuduh Sayidinna Umar bin Khatab dan Imam Ali bin Abi Thalib telah menghinakan tentara Islam, karena Sayidina Umar tidak berangkat bertempur setelah beliau meminta analisa strategi militer kepada Imam Ali. Apakah itu menghinakan? Apakah yang dimaksud menghinakan itu, apa kriterianya? Bagaimana mereka yang mengaku Islam dan memiliki cabang di negeri mana pun tapi tidak terlibat dalam pertempuran di Lebanon selatan dan sama sekali tidak memberi bantuan militer dan pelatihan, bahkan menyalah-nyalahkan yang memberi bantuan adalah lebih baik, lebih mulia? Atau mereka yang hanya pandai berteriak-teriak untuk sesuatu yang besar tapi miskin persiapan, hanya pintar dalam slogan tanpa aksi, bangga membangun mimpi-mimpi sampai tingkat dunia tapi sepi dari kekuatan infrastrukturnya, adalah lebih mulia, lebih bermartabat, lebih Mukmin, lebih pantas disebut Mujahid? Sedang atase militer Iran dan Suriah yang bersusah payah mengatur taktik droping zone untuk mengirimkan senjata, dan berpeluh-peluh menanamkan keberanian bertempur, mengajarkan taktik berjuang adalah telah menghinakan? Apa yang hanya teriak-teriak membawa mimpi-mimpi besar di jalan tanpa pernah terancam oleh apapun itu lebih terhormat, ketimbang Prajurit Iran dan Suriah yang harus pontang-panting membawa anak didiknya ke tempat aman untuk dipersiapkan dalam menghadapi perang berikutnya adalah hina? Apakah yang dimaksud menghinakan itu? Apa standarnya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;ANDAI HIZBUT TAHRIR TIDAK HIZBUT TAHRIR TAPI HIZBULLAH&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pada halaman berikut HT/Buletin al Islam seolah menegaskan sikapnya, dan menjanjikan lahirnya PAHLAWAN (KESIANGAN) BARU. "Sesungguhnya berbagai persoalan Kaum muslimin tidak akan dapat diselesaikan dengan berbagai resolusi internasional yang ditetapkan oleh DK PBB..., persoalan semacam ini hanya dapat diselesaikan dengan JIHAD, MEMBUKA BERBAGAI FRONT PERTEMPURAN DAN MENDORONG TENTARA KAUM MUSLIMIN DARI BERBAGAI PENJURU DUNIA UNTUK BERJIHAD FI SABILILAH...SESUNGGUHNYA PENGHINAAN SURIAH DAN IRAN TERHADAP HIZBULLAH DENGAN MEMBIARKANNYA SENDIRIAN MELAWAN YAHUDI ADALAH BENTUK KOLUSI UNTUK MEMUDAHKAN MASUKNYA BERBAGAI RANCANGAN AMERIKA KE WILAYAH INI...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jika HT mengklaim memiliki wakil di setiap negara dan menyatakaan Rame -begitu al wa'ie menyebut- di mana-mana, kami hanya ingin bertanya: Dimana tentara, lasykar atau pejuang HT yang ada di Lebanon, Suriah, Mesir, Kuwait, Yordania, Palestina tentunya Indonesia, kenapa kalian bersembunyi saat Lebanon diserbu Israel? Apa yang kalian kerjakan, apakah Anda merasa dengan hanya hujatan dan sumpah serapah saja merasa lebih hebat ketimbang Iran dan Suriah? Atau Anda sudah merasa jadi orang mulia dan jantan hanya dengan mengobral cemoohan kepada Iran dan Suriah melalui buletin dan mempromosikan keberanian macan kertas anda? Padahal Anda tak satu keringat pun menetes dari badan Anda, tak ada luka tak ada ancaman. Bantuan apa yang telah kalian berikan pada hizbullah? Apakah rakyat Palestina dan Lebanon Selatan hanya akan Anda bantu dengan janji-janji dan mimipi-mimpi besar dunia? Sampai kapan? Dan kapan terwujud? Padahal yang mereka butuhkan adalah aksi saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seharusnya kalau tahu resolusi itu sangat merugikan, dan HT menolak gencatan senjata, harusnya prajurit-prajurit HT terus melakukan gempuran pada kubu-kubu Israel (namun kita tidak pernah melihat ada prajurit/pemuda HT yang turun), memobilisasi pasukan ke garis depan, menciptakan front-front baru pertempuran, merencanakan oposite quarter attack, menghitung opprational preparedness tentaranya, menetapkan operational theatre dan areanya, menghitung operational superiority dan bagaimana mencukupinya. Menetapkan opperational speed tentaranya untuk menggungguli speed Sayeret Golani, Sayeret Tzanhanim dan Sayeret Mat'kal tentara Komando Khusus Israel, mendahului gerak intelejen Israel seperti Mossad, Aman, Shin Beth dan Lakam dan menetapkan orbat untuk meghancurkan mereka, dan segudang pekerjaan-pekerjaan militer lainnya. Tentunya sebagai lembaga yang berencana menegakkan Kekhalifahan dengan kontinen luas, wajibnya sudah punya segudang keahlian dan pengalaman serta rencana pertahanan bagi wilayahnya. Kalau salah satu opsirnya yang menulis di Buletin al Islam sudah bisa membuat penilaian bahwa Iran dan Suriah telah menghinakan Hizbullah, tentu HT ini telah menyiapkan operation air ground dan protective pada Hizbullah agar mereka lebih termartabatkan. Kita tunggu saja letusan senjata dan roket HT beberapa detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, abad atau kita tunggu dalam mimpi-mimpi besar kita bahwa Israel telah hancur, minimal dalam mimpi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;KHATIMAH &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Cobalah anda bertanya pada rakyat Lebanon Selatan siapa yang menyiksa Yahudi/Israel demi anak-anak yang terbunuh, demi yang dicederai, demi para wanita yang diintimidasi, dipisahkan dari suaminya (menjadi janda) dan dihinakan, demi orang tua yang ternoda dengan darah, siapa yang menyiksa mereka, siapa yang menyiksa dibelakang mereka, siapa yang mehancurkan mereka, dan siapa yang membantu dan melatih mereka hingga bisa begitu, Niscaya tak akan anda temukan jawaban seperti dalam mimpi anda (Kekhilafahan), mereka akan menjawab, "Atas Pertolongan Alloh Yang Maha Agung, Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, bahwa Dia telah mengirimkan putra-putra AhlulBayt melalui sulbi kami dan terlahir dari rahim-rahim kami, mereka mahir dalam rengkuhan Hizbullah dan arif dalam asuhan para Mullah (Hizbullah dan Iran). Wallahu a'lam bishawab. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;pre&gt;&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-1499704338713695602?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/1499704338713695602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=1499704338713695602' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/1499704338713695602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/1499704338713695602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2006/12/hizbullah-antara-penghinaan-dan_16.html' title=''/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-638644298527444492</id><published>2006-12-16T07:06:00.001-08:00</published><updated>2006-12-16T07:43:49.219-08:00</updated><title type='text'>Edisi 22</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak "Ndeso"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;Beragama yang Tidak Korupsi&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Faisal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-style: italic;"&gt;Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu:  pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-style: italic;"&gt;Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan."&lt;br /&gt;"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.&lt;br /&gt;"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.&lt;br /&gt;"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang&lt;br /&gt;memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga  harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid,&lt;br /&gt;melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit,  dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.  Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat,&lt;br /&gt;baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;Ekstrinsik VS Intrinsik&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka." Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.  Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.  Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan.  Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri.  Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid'ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid'ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama. []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kurban Kolektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-weight: bold;"&gt;Oleh: Abu Muhammad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Sebentar lagi, kaum Muslimin akan memperingati hari raya Kurban, ‘Idul Adha. Pada musim-musim ketika kambing dan sapi ramai diperdagangkan, pada saat yang sama ramai juga beredar hadits-hadits tentang keutamaan berkurban. Sebagian mubaligh menyampaikan bahwa binatang ternak yang kita kurbankan akan membantu kita dalam menyeberangi &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;shirath&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; di hari akhir nanti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Terlepas dari makna batiniah ibadah kurban, saya ingin menyoroti isu tentang kurban kolektif. Selama ini yang kita pahami, satu ekor kambing hanya boleh diniatkan untuk menjadi kurban satu orang saja. Sementara satu ekor sapi bias dikeroyok oleh tujuh orang. Apakah memang demikian? Sebagian sahabat menyampaikan kepada saya bahwa keharusan satu ekor kambing untuk satu orang kadang-kadang membuat kurban hanya dibatasi kepada yang mampu saja. Apakah seekor kambing, seperti halnya sapi, tidak bias dikeroyok untuk dikurbankan sama-sama? Sekiranya kita hanya mampu menyumbang Rp. 50.000,- tidak bisakah uang itu kita gunakan untuk beribada?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Untuk menjawab pertanyaan itu, saya ingin mengutip hadits yang diriwayatkan dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nayl al-Awthar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, kitab yang sering menjadi rujukan saudara-saudara kita di Persatuan Islam (PERSIS) dan Muhammadiyah. Dalam kitab itu, pada juz ke 6 hlm. 122, Bab &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nabi berkurban untuk Umatnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, terdapat hadits nomor 2098 dan 2099 dengan bunyi sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;(2098) Dari Jabir, berkata: Aku shalat bersama Rasulullah Saw pada hari Idul Adha. Usai shalat, Nabi dating dengan membawa seekor kambing dan menyembelihnya seraya berkata: &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahi wallahu Akbar. Allahumma hadza ‘anni wa ‘an man lam yudhahhi min ummati. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, (kurban) ini dariku dan dari siapa pun yang tidak (mampu) berkurban di antara ummatku. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, Sunan Abu Dawud, dan Turmudzi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;(2099) Dan dari Ali bin Husain dari Abi Rafi’ dari Rasulullah Saw bahwa Nabi ketika berkurban membeli dua ekor kambing yang gemuk, sehat, dan putih bersih. Setelah shalat dan berkhutbah, seekor kambing itu didatangkan kepada Nabi dan Nabi berdiri di Mushallanya kemudian menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri. Kemudian berkata: &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahumma hadza ‘an ummati jami’an man syahida laka bil tauhid wa syahida li bil balagh.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Ya Allah, (kurban) ini dari semua umatku yang bersaksi kepada-Mu dengan keesaan dan yang bersaksi kepadaku terhadap apa yang aku sampaikan. Kemudian didatangkan kambing yang kedua, lalu Nabi menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri dan berkata: &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hadza ‘an Muhammad wa Ali Muhammad&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, (kurban) ini dari Muhammad dan keluarga. Dengan kedua kurban itu dikenyangkanlah seluruh yang miskin dan Nabi memakannya bersama keluarganya sebagian dari daging kurbannya…..Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Menarik untuk mencermati kedua hadits di atas, bahwa sebetulnya kurban kolektif bukan saja dibolehkan, tetapi pernah dicontohkan Nabi Saw. Meski dalam keterangan akan hadits yang pertama Imam Ahmad mengatakannya sebagai hadits dha’if, tetapi hadits yang kedua diriwayatkan beliau sebagai hadits yang sampai pada derajat hasan. Imam Ahmad meriwayatkan kedua hadits ini dalam Musnadnya 8:3. Sunan Abu Dawud memuatnya pada kitab &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Adhahi, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;bab “Yang dikurbankan atas nama jama’ah” sedangkan Imam Turmudzi dalam Sunan-nya bagian Al-Adhahi, bab 22 hadits nomor 1521.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Dalam lanjutan keterangan yang tercantum pada kitab &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nayl al-Awthar, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;disebutkan bahwa dua hadits ini menunjukkan dalil dibolehkannya seseorang untuk berkurban atas dirinya dan atas keluarganya, kerabatnya, dan menyerikatkan mereka dalam pahalanya. Demikian dikatakan jumhur para ulama. (Nayl al-Awthar,k juz 6, hlm. 123). &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nayl al-Awthar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; juga memuat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shahihnya pada &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Adhahi:19&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; dari Anas bahwa Rasulullah Saw diriwayatkan berkata: &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahumma taqabbal min Muhammad wa Ali Muhammad wa’an ummati Muhammad,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; Ya Allah, terimalah dari Muhammad, dan keluarga Muhammad, dan dari umat Muhammad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Masih dalam &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nayl al-Awthar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; juga disebutkan bahwa Ibnu Majah dan Turmudzi meriwayatkan hadits dari Abu Ayub tentang seseorang yang menyembelih kambingnya pada masa Nabi Saw atas nama dirinya dan keluarganya. Abu Hurairah juga diriwayatkan menyampaikan hadits ini dalam keterangan yang disampaikan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Meskipun setelah memuat hadits-hadits di atas &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nayl Al-Awthar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; masuk pada pembahasan apakah berkurban itu wajib atau sunnah, cukup bagi kita untuk mengambil kesimpulan bahwa hadits tentang kebolehan menyembelih seekor kambing dengan niat lebih dari satu orang diriwayatkan oleh hampir semua ahli hadits. Muslim, Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Hakim, dan Imam Ahmad meriwayatkan tentang ini dalam berbagai redaksinya. Hanya Imam Ahmad yang memberi keterangan dha’if, itupun pada hadits yang pertama. Sedangkan para ulama pengumpul hadits yang lainnya tidak memberikan keterangan tentang kedha’ifannya. Bahkan, Imam Ahmad pun menilai hadits yang kedua –dalam konteks redaksional yang sama– sebagai hadits hasan. Kemungkinan hadits yang pertama masuk dalam kategori dha’if oleh Imam Ahmad ditinjau dari sisi sanad. &lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Bila enam ahli hadits dan satu Imam Ahmad meriwayatkan hadits tentang menyembelih kolektif dengan keterangan hadits hasan, maka tidak ada lagi kekhawatiran bagi kita untuk mulai membiasakan diri berpartisipasi dalam berkurban sejauh kemampuan yang kita miliki. Tentu bila kita mampu berkurban seekor kambing, maka itu baik untuk kita lakukan. Sama baiknya bila kita baru bias menyumbang sebagian dari harga seekor kambing itu. Sebaliknya, kurban kolektif bias jadi buruk bila dilakukan oleh orang yang bisa berkurban seekor penuh. Dengan dalil-dalil di atas kita ingin bersama-sama mengajak masyarakat untuk melakukan kurban sebatas kemampuan yang kita miliki. Saya kira Tuhan tidak pernah akan kebingungan untuk “membagi” pahala kurban itu di antara kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Lalu bagaimana dengan distribusi daging kurbannya? Sesuai hadits Nabi di atas, daging kurban itu kemudian diberikan sebagai makanan bagi fakir miskin, dan Nabi beserta keluarganya juga memakan sebagian dari kambing itu. Saya kira, kita cukup dewasa untuk bisa membagi distribusi kurban kolektif itu, atau –lebih baik lagi– kita relakan semua untuk mengenyangkan mereka yang kelaparan di sekitar kita. Selamat menyambut Idul Adha dengan kurban kolektif! []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-638644298527444492?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/638644298527444492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=638644298527444492' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/638644298527444492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/638644298527444492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2006/12/edisi-13.html' title='Edisi 22'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6297172043301905367.post-1048119513634771374</id><published>2006-12-16T06:26:00.000-08:00</published><updated>2006-12-16T07:31:20.913-08:00</updated><title type='text'>Edisi 21</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong style="font-family: courier new;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;" lang="SV"&gt;Etika Menolong dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b style="font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-weight: bold;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-family: courier new;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-weight: bold;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: courier new; font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-size: 20pt;" lang="SV"&gt;Oleh: Jalaluddin Rakhmat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;ADA banyak nama untuk bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW menyebutnya Bulan Keberkahan, Bulan Kesabaran, Bulan Ampunan, dan Bulan Berbagi (&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Syahr al-Muwasat&lt;/i&gt;&lt;/em&gt;). Pada bulan ini orang kaya bukan saja harus berbagi kekayaan dengan orang miskin, ia juga harus ikut berempati dengan penderitaan mereka. Orang beruntung harus berbagi kebahagiaan dengan orang yang malang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Perintah untuk berbagi ini diingatkan dengan doa yang harus dibaca setiap selesai shalat wajib:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, masukkan kebahagiaan kepada para penghuni kubur &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, kayakanlah semua orang yang miskin &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, kenyangkan semua orang yang lapar &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, beri pakaian semua orang yang telanjang &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, tunaikan utang semua orang yang berutang &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, lepaskan derita semua orang yang menderita &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, kembalikan semua orang yang terasing &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, bebaskan semua orang yang terpenjara &lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Ya Allah, sembuhkan semua orang yang sakit&lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 26.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Bersamaan dengan doa yang mereka lantunkan, semua Muslim harus menjadi tangan-tangan Tuhan untuk memenuhi doa itu. "Puasa itu hanya untuk Aku," kata Tuhan. Puasa dipersembahkan hanya untuk Tuhan. Tidak ada persembahan yang paling agung selain perkhidmatan kepada makhluk-Nya. Mencintai Tuhan hanya dapat dilakukan dengan mencintai sesama manusia. Karena itu, amal yang paling dicintai Tuhan pada Bulan Berbagi bukanlah ibadah ritual yang bersifat individual, tetapi ibadah sosial yang membagikan kebahagiaan kepada orang banyak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 26.95pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Mencintai Tuhan dengan mencintai manusia digambarkan Leigh Hunt, penyair Inggris, dalam kisah seorang sufi, Abou Ben Adhem, yakni Abou Ben Adhem (semoga kabilahnya bertambah) satu malam terbangun dari mimpinya yang indah. Dan ia lihat, di ruangan dalam cahaya terang rembulan, yang gemerlap ceria seperti bunga lili yang sedang merekah, seorang malaikat menulis pada kitab emas. Ketenteraman jiwa membuat Abou berani berkata kepada sang Sosok di kamarnya, "Apa yang sedang kamu tulis?" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Bayangan terang itu mengangkat kepalanya dan dengan pandangan yang lembut dan manis ia berkata, "Nama-nama mereka yang mencintai Tuhan." "Adakah namaku di situ?" kata Abou. "Tidak. Tidak ada," jawab malaikat. Abou berkata dengan suara lebih rendah, tapi tetap ceria, "Kalau begitu aku bermohon, tuliskan aku sebagai orang yang mencintai sesama manusia." Malaikat menulis dan menghilang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Pada malam berikutnya ia datang lagi dengan cahaya yang menyilaukan dan memperlihatkan nama-nama yang diberkati cinta Tuhan. Aduhai! Nama Abou Ben Adhem di atas semua nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;b style=""&gt;Menolong mereka berarti menolong Aku&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Abou Ben Adhem mungkin lahir di negara yang sekarang ini disebut Afganistan. Ia tidak begitu dikenal dibandingkan dengan teman senegaranya, Jalaluddin Balkhi (alias Rumi). Tetapi, keduanya menekankan pentingnya kecintaan kepada Tuhan sebagai hakikat keberagamaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Bagi kita semua, Rumi mendendangkan lagu ini: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana; font-style: italic;" lang="SV"&gt;Marilah kita jatuh cinta lagi/ Dan sebarkan debu emas ke seluruh penjuru Bumi/ Marilah kita menjadi musim semi baru/ Dan merasakan tiupan lembut dalam wewangian surgawi/ Marilah kita busanai bumi dalam kehijauan/ Dan seperti getah pohon yang muda/ Biarkan berkat dari dalam mengaliri kita/ Marilah kita ukir permata dari hati kita yang membatu/ Dan pancarkan cahayanya untuk menyinari jalan cinta/ Lirikan cinta sejernih kristal dan kita diberkati karena cahayanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Baik Abou Ben Adhem maupun Rumi percaya bahwa kita tidak bisa mencintai Tuhan tanpa mencintai sesama manusia. Mereka menegaskan kembali apa yang dikatakan Tuhan kepada hamba-Nya pada hari kebangkitan: pada hari kiamat, Tuhan memanggil hamba-hamba-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Ia berkata kepada salah seorang di antara mereka, "Aku lapar, tapi kamu tidak memberi makan kepada-Ku." Ia berkata kepada yang lainnya, "Aku haus, tapi kamu tidak memberiku minum." Ia berkata kepada hamba-Nya yang lainnya lagi, "Aku sakit, tapi kamu tidak menjenguk-Ku." Ketika hamba-hamba-Nya mempertanyakan semuanya ini, Ia menjawab, "Sungguh si fulan lapar; jika kamu memberi makan kepadanya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si fulan sakit; jika kamu mengunjunginya, kamu akan menemukan Aku bersamanya. Si fulan haus; jika kamu memberinya minum, kamu akan menemukan Aku bersamanya." (Ibn Arabi sering mengutip hadis ini dalam Al-Futuhat al-Makkiyah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Ketika seorang murid baru mengikuti tarekat, syaikh-nya akan mengajarinya untuk menjalankan tiga tahap latihan rohaniah selama tiga tahun. Ia baru diizinkan mengikuti Jalan Tasawuf bila ia lulus melewatinya. Tahun pertama adalah latihan berkhidmat kepada sesama manusia. Tahun kedua beribadat kepada Tuhan, dan tahun ketiga mengawasi hatinya sendiri. Kita tidak bisa beribadat kepada Tuhan sebelum kita berkhidmat kepada sesama manusia. Menyembah Allah adalah berkhidmat kepada makhluk-Nya. &lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Abou Said Abul Khayr terkenal sebagai sufi yang pertama kali mendirikan tarekat sufi. Ketika salah seorang pengikutnya menceritakan seorang suci yang dapat berjalan di atas air, ia berkata, "Sejak dahulu katak dapat melakukannya!" Ketika muridnya kemudian menyebut orang yang dapat terbang, ia menjawab singkat, "Lalat dapat melakukannya lebih baik." Muridnya bertanya, "Guru, gerangan apakah ciri kesucian itu?" Ia menjawab, "Cara terbaik untuk mendekati Tuhan adalah melakukan perkhidmatan sebaik-baiknya kepada sesama manusia, memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Mungkin karena perhatiannya yang sangat besar pada cinta kasih, tasawuf dianggap mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan agama Kristen. Tor Andrae, pernah menjadi bishop Lutheran dari Linkvping, mengungkapkan bagaimana Yesus sering dijadikan rujukan dalam ucapan-ucapan para sufi. Mereka belajar dari Yesus bukan saja tentang kesederhanaan hidup yang dijalankannya, tetapi juga perhatiannya untuk menolong orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Namun, kaum sufi bukan hanya merujuk kepada Kristus, mereka juga belajar jalan cinta dari Musa. Seorang syaikh menyampaikan cerita berikut ini, Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, "Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Dengan marah Musa menjawab, "Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?" Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, "Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. "Saya lapar sekali," katanya kepada Musa. "Berilah aku makanan." Musa berkata, "Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan." Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, "Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan." Tuhan menjawab, "Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;"Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa," kata Musa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;"Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku." &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Dalam Al-Quran juga ada perintah, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yang menghinakan." (QS An Nisaa: 36-37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;b style=""&gt;Menolong Harus Tulus&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari "shadaqa", yang berarti benar sejati atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. "Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan," kata Nabi Muhammad SAW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat (unconditional love) kepada semua orang. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari Rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di Bumi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Alkisah, bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu dari salah seorang sultan dari Khilafah Utsmaniyah membaktikan hidupnya untuk kegiatan amal saleh. Ia membangun masjid, rumah sakit besar, dan sumur-sumur umum untuk daerah permukiman yang tidak punya air di Istanbul, Turki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Pada suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang dibiayai sepenuhnya dari kekayaannya. Ia melihat ada semut kecil jatuh pada adukan beton yang masih basah. Ia memungut semut itu dan menempatkannya pada tanah yang kering. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Tidak lama setelah itu, ia meninggal dunia. Kepada banyak kawannya, ia muncul dalam mimpi mereka. Ia tampak bersinar bahagia dan cantik. Kawan-kawannya bertanya, apakah ia masuk ke surga karena sedekah-sedekah yang dilakukannya ketika masih hidup? Ia menjawab, "Saya tidak masuk surga karena semua sumbangan yang sudah aku berikan. Saya masuk surga karena seekor semut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Renungan ini semula berupa makalah dengan judul Die Ethik des Helfens im Islam, yang disampaikan Jalaluddin Rakhmat pada seminar "Die Ethik des Helfens aus der Sich verschiedener Religionen", Basel, 8-13 September 2002).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: center;"&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;" lang="SV"&gt;Biarkan Dia Berbicara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Hari itu para pembesar Quraisy mengadakan sidang umum. Mereka memperbincangkan berkembangnya gerakan baru yang diasaskan Muhammad. Ada dua pilihan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;To shoot it out&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt; atau &lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;to talk it out&lt;/i&gt;&lt;/em&gt;. Membasmi gerakan itu sampai habis atau mengajaknya bicara sampai tuntas. Pilihan kedua yang diambil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Untuk itu serombongan Quraisy menemui Nabi saw. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Beliau sedang berada di masjid. Utbah bin Rabi'ah anggota &lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;Dar al-Nadwah&lt;/i&gt;&lt;/em&gt; (parlemen) yang paling pandai berbicara, berkata : "Wahai kemenakanku! Aku memandangmu sebagai orang yang terpandang dan termulia diantara kami. Tiba-tiba engkau datang kepada kami membawa paham baru yang tidak pernah dibawa oleh siapapun sebelum engkau. Kauresahkan masyarakat, kautimbulkan perpecahan, kaucela agama kami. Kami khawatir suatu kali terjadilah peperangan diantara kita hingga kita semua binasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Apa sebetulnya yang kau kehendaki. Jika kauinginkan harta, akan kami kumpulkan kekayaan dan engkau menjadi orang terkaya diantara kami. Jika kau inginkan kemuliaan, akan kami muliakan engkau sehingga engkau menjadi orang yang paling mulia. Kami tidak akan memutuskan sesuatu tanpa meminta pertimbanganmu. Atau, jika ada penyakit yang mengganggumu, yang tidak dapat kauatasi, akan kami curahkan semua perbendaharaan kami sehingga kami dapatkan obat untuk menyembuhkanmu. Atau mungkin kauinginkan kekuasaan, kami jadikan kamu penguasa kami semua."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Nabi saw mendengarkan dengan sabar. Tidak sekalipun beliau memotong pembicaraannya. ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, "Sudah selesaikah ya Abal Walid?" Sudah, kata Utbah. Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat: "Ha mim. Diturunkan al-Qur'an dari Dia yang Mahakasih Mahasayang. sebuah kitab, yang ayat-ayatnya dijelaskan. Qur'an dalam bahasa Arab untuk kaum yang berilmu....." Nabi saw terus membaca. ketika sampai ayat sajdah, ia bersujud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Sementara itu Utbah duduk mendengarkan sampai Nabi menyelesaikan bacaannya. kemudian, ia berdiri. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kaumnya berkata, "Lihat, Utbah datang membawa wajah yang lain."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Utbah duduk di tengah-tengah mereka. Perlahan-lahan ia berbicara, "Wahai kaum Quraisy, aku sudah berbicara seperti yang kalian perintahkan. Setelah aku berbicara, ia menjawabku dengan suatu pembicaraan. Demi Allah, kedua telingaku belum pernah mendengar ucapan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang diucapkannya. Wahai kaum Quraisy! Patuhi aku hari ini. kelak boleh kalian membantahku. Biarkan laki-laki itu bicara. Tinggalkan dia. Demi Allah, ia tidak akan berhenti dari gerakannya. Jika ia menang, kemuliannya adalah kemulianmu juga."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Orang-orang Quraisy berteriak, "Celaka kamu, hai Abul Walid. Kamu sudah mengikuti Muhammad". Orang Quraisy ternyata tidak mengikuti nasihat Utbah (Hayat al-Shahabah 1:37-40; Tafsir al-durr al-Mansur 7:309, Tafsir Ibn Katsir 4:90, Tafsir Mizan 17:371). Mereka memilih logika kekuatan, dan bukan kekuatan logika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;Peristiwa itu sudah lewat ratusan tahun yang lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi Saw dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Yang menakjubkan kita adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh Utbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi saw. dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat kaum kafir. Kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Seperti pembesar-pembesar Quraisy, kita lebih sering memilih &lt;em&gt;&lt;i style=""&gt;shoot it out&lt;/i&gt;&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Jalaluddin Rakhmat, "Tafsir bil Ma'sur", h. 131-133)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6297172043301905367-1048119513634771374?l=pintu-ilmu.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/feeds/1048119513634771374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=6297172043301905367&amp;postID=1048119513634771374' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/1048119513634771374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6297172043301905367/posts/default/1048119513634771374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pintu-ilmu.blogspot.com/2006/12/edisi-12.html' title='Edisi 21'/><author><name>Pintu Ilmu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15595127860329608557</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12618313421864817862'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>